Tuesday, February 5, 2008

opung sakit

Opung doli lagi sakit di Medan.
Sakitnya lumayan parah, mungkin karena faktor usia juga.
Opung sekarang 86 tahun jalan 87.
Sudah cukup lanjut.

Semua orang berpikir bahwa sakit parah pada usia yang demikian adalah wajar.
Tapi, it's not in my case.
Semuanya pada kaget dan panik karena sampai dengan minggu lalu sebelum masuk rumah sakit, Opung sehat dan fit.
Senang bercanda dengan semua orang.
Bahkan bulan November masih sempat datang ke Jakarta.

Hari Sabtu pagi berangkat ke Medan.
Naik Silk Air langsung dari Spore ke Medan.
Pagi jam 5 sudah jalan ke Changi naik taxi (bus belum beroperasi).
Tiba di Medan jam 9 pagi setelah 1 jam terbang.

Selama perjalanan di pesawat dan ke rumah sakit, masih biasa saja.
Sesudah tiba dan melihat opung...
Sedih dan nangis.

Ternyata keadaannya parah.
Bernapas sulit, sesak.
Makanan semuanya dimasukkan lewat selang langsung ke lambung.
Infus berjejal-jejal.
Tangan kanannya sudah hitam karena pembuluh darah yang pecah.
Pecah karena sudah rapuh dan sering disuntik..
Kesadarannya menurun drastis.
Mulai sulit mengenali orang, dan sulit berbicara.
Sedih sekali rasanya...

Opung masih ingat ela.
Butuh beberapa detik untuk bisa ingat.
Pertama opung cuma lihat muka ela.
Lalu, pelan-pelan mulai tersenyum.
Ela ya...
Ya, ini ela pung
Dan aku pun tersenyum walaupun pipi sudah basah oleh air mata....

Sabtu hingga Minggu terus ada di rumah sakit.
Jagain opung sama-sama sepupu.
Tidak tega liat opung.
Disuntik-suntik, dimasukkan segala macam obat ke tubuhnya, di masukkan alat-alat aneh.
Alat-alat yang mudah membunuh semangat hidup seseorang.

Semua anak-anak dan cucunya menunggu di sisinya
Mencoba menghibur sebisanya
Memegang tangannya saat jarum itu menyiksa tubuh tuanya.
Mengelus-elus tangannya saat sakit itu melanda sekujur tubuh.
Cuma bisa itu...
Cuma itu...

Waktu ela pegang tangannya.
ela liat banyak keriput-keriput dan luka-luka.
Salah satu pendeta pernah bilang bahwa setiap keriput yang dimiliki sesorang menunjukkan kebijaksanaan dan pelajaraan hidup yang sudah dia terima sepanjang hidupnya.
Seluruh tangan opung berkeriput.
Dan pikiranku mulai berkelana....

Berapa banyak hal yang opung alami sepanjang hidupnya..
Hal-hal yang menyenangkan maupun yang berusaha menghancurkan hidupnya
Hal-hal yang dia pelajari..
Mengenai hidup, cinta, cita-cita, dan Tuhan...
Hal-hal yang dia ingat...
Opung boru, anak-anak, cucu-cucu, kampung halamannya, rumahnya..
Kebijaksanaan yang diperoleh melalui tempaan hidup.

Lalu aku berterima kasih dalam hati.
Terima kasih Tuhan untuk hidup ini
Terima kasih untuk keluarga besar yang begitu hangat dan akrab
Terima kasih untuk orang tua yang baik
Terima kasih untuk opung yang telah berjuang sekuat tenaganya untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya sehingga ela bisa punya semua yang ela punya sekarang.

Opung berjuang sekuat tenaganya.
dengan iman dan doa.
Melalui perang, kerusuhan, kesulitan ekonomi, sakit penyakit, kesedihan karena ditinggalkan Opung boru, kesepian dan kesendirian...
Ia tidak pernah gagal
tidak pernah lalai mendidik anak-anak dan cucu-cucunya.
Memberikan dasar moral dan etika untuk hidup dengan penuh tanggung jawab.
Terlebih dari itu, Ia meninggalkan warisan terpenting..
Warisan yang kekal...
Iman.

Iman yang benar.
Iman yang menghasilkan perbuatan.
Iman yang jadi teladan.
Iman yang tidak pernah padam.

Terima kasih Pung.

Ela terus berdoa supaya Opung cepat sembuh.
Di atas segalanya ela berdoa supaya kehendak Tuhan yang terjadi
yang terbaik buat Opung..

Love u Pung i

No comments: